jam brapa YacH!1

Senin, Maret 24, 2008

RefLeksi maUlid Nabi..


perputaran roda sang waktu telah mengantarkan kita di mana Agama bukalah suatu hal yang sakral dan urgent dalam kehidupan,. Agama hanyalah sebuah kata, tak elak dari sebuah kata yang biasa menempel di KTP, Surat Tanda Nikah, ataupun Surat-Surat Resmi yang memerlukan identitas agama sebagai syarat, sekali lagi hanya sebuah syarat untuk tinggal di negeri ini
semua tak ambil pesuli untuk apakah agama Islam ini disampaikan oleh Muhammad SAW ke seluruh penjuru umat manusia, yang kita tahu hanyalah kita dilahirkan sari Bapak Ibuyang notabennya seorang muslim,
betapa terpuruknya moral bangsa yang disebut-sebut sebagai nNegeri yang memiliki persentase Umat Islam terbanyak, jika disetiap antero jalanan terpampang indah pamflet-pamflet wanita setengah telanjang yang tak tahu malunya memamerkan bentuk tubuhnya, adakah ini dinamakan Negeri dengan umat Muslim terbanyak???
tanyalah kepada diri kita sendiri, karena kitalah yang mengetahui jawabannya, tak ada yang perlu disalahkan, salahkan lah diri kita sendiri, yang tak pernah mau ambil perduli dengan risalah yang disampaikan Muhammad SAW ini. mungkin hanya segelintir dari kita yang mau ambil pusing dengan semua ini, adakah keikhlasan kita ketika jungkir balik melaksanakan sholat, adakah terbesit sedikit di memori kita, bahwa perintah sholat yang di jembut Muhammad SAW ini, tidaklah sebanding dengan kenikmatan yang kita rasakan di seantero Langit dan Bumi.
menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW marilah kita coba merefleksi diri menjadi lebih baik..Cia Yo AllAhu AkbAr :-)

Menteladani rasuluLLah (MEmimPin DenGAn CIntA)
Sejarah menunjukkan, pemimpin besar yang namanya terukir dengan tinta emas adalah mereka yang memimpin rakyatnya dengan cinta kasih, bukan mengandalkan kekuatan senjata dan bukan pula yang hanya mengejar materi dan popularitas untuk kepentingan kelompoknya. Figur-figur historis semacam Musa, Yesus, Muhammad, Gautama, dan Gandhi--yang telah berjasa membangun peradaban dunia dan memiliki pengikut yang setia dari masa ke masa--adalah contoh pemimpin yang memiliki hati yang dipenuhi rasa cinta terhadap Tuhan dan rakyat mereka, sehingga tak ada lagi ruang untuk berpikir mengumpulkan kekayaan untuk diri mereka.

Dalam istilah manajemen, karakter kepemimpinan mereka termasuk kategori leadership from within, yaitu kepemimpinan yang mengandalkan kekuatan pribadi dan cinta, sehingga yang muncul keinginan untuk berbagi dan selalu ingin memberi agar orang lain berkembang. Dengan istilah lain, pemimpin yang otentik adalah mereka yang memiliki kepribadian melimpah (abundant personality), yang siap miskin dan siap sakit demi kemenangan dan kesejahteraan rakyat.

Memang, terlalu ideal untuk bisa mencontoh bagaimana kesederhanaan hidup Nabi Muhammad SAW sekalipun beliau berhasil secara gemilang membangun kekuasaan politik dan peradaban yang pengaruhnya tak pernah surut sepanjang sejarahnya. Tetapi, sosok ideal bukan berarti sebuah utopia. Buktinya kita dapat menemukan sosok pemimpin dunia yang gaya hidupnya amat sederhana, namun kaya hati, kaya gagasan, dan kaya keteladanan.

Rasanya para pemimpin dan kita semua perlu membiasakan diri untuk melakukan perenungan, meditasi, mengambil jarak psikologis dari budaya komentar dan hiruk pikuk retorika politik yang penuh nuansa persaingan dan kebencian antara kelompok yang satu dengan yang lain. Kita malu dengan para pejuang dan pendiri bangsa ini yang telah rela mengorbankan kesenangan materi demi kemerdekaan dan martabat bangsa.

Mereka berjuang dalam kancah diplomasi dunia, sementara yang lain keluar masuk penjara, belum lagi yang mengambil jalan gerilya. Semuanya itu masih segar dalam ingatan sejarah kita. Namun, ketika mata dan perhatian kita hadapkan pada aktor politik yang tengah berlaga sekarang ini, yang katanya tengah mengemban amanat reformasi, yang segera muncul adalah rasa kecewa, lelah, dan bahkan muak menyaksikan rendahnya komitmen moral dan keringnya rasa cinta terhadap bangsa dan rakyat. Alih-alih berkorban untuk rakyat, yang terjadi adalah mengorbankan rakyat dan lawan politik untuk keselamatan diri.

Sebuah gerakan kebudayaan akan memiliki daya tahan dan konsisten kalau para pelakunya memiliki kejelasan visi, integritas, komitmen, dan metode yang tepat untuk melakukan aksi-aksi nyata yang berkelanjutan. Mengapa Yesus, Nabi Muhammad, dan pemimpin besar dunia lain berhasil menggubah sejarah, karena mereka memiliki kriteria di atas. Para pengikutnya setia bukan karena insentif materi yang dijanjikan, tapi karena ketulusan hati sang pemimpin dan kebenaran serta kejelasan visi yang diembannya.

Pemimpin yang di dalam dirinya bertemu kekuatan cinta, kebenaran, dan keterampilan berkomunikasi akan sanggup menggerakkan rakyat untuk melakukan perubahan besar dalam sejarah. Andaikan dada Nabi Muhammad dibelah, kata para sahabatnya, maka yang ada hanyalah cinta. Ke mana pun pergi, yang keluar adalah aura cinta--baik yang keluar melalui tutur kata, tindakan, dan pikiran. "Ya, Tuhan. Kasihanilah, tunjukilah, dan ampunilah kaumku yang bodoh dan sesat itu, karena mereka memang belum terbuka hatinya untuk menerima cahaya-Mu," demikian Nabi Muhammad selalu berdoa untuk para musuhnya sekalipun.

Doa itu bukanlah retorika belaka. Ibarat seorang dokter, Nabi Muhammad bersikap tegas untuk menjaga kesehatan masyarakatnya dari berbagai penyakit sosial. Maka, beliau sangat tegas dalam penegakan hukum, keadilan, dan terus-menerus melakukan pencerahan melalui pendidikan. Juga hukuman keras bagi mereka yang korup, tidak mau membayar zakat, dan menumpuk kekayaan sehingga harta tidak produktif. Prinsip-prinsip ini merupakan doktrin Nabi Muhammad untuk menjaga kesehatan sosial dan membangun peradaban.

Beliau sangat keras terhadap kelompok kuffar, yaitu mereka yang mengetahui kebenaran, tetapi malah melawan karena dominasi egonya. Adapun terhadap orang "kafir" (covered), yang kekafirannya itu karena belum tahu tentang kebenaran Islam, baik karena faktor pengetahuan maupun jarak geografis, sikap Nabi Muhammad sangat simpatik dan bersahabat. Planet bumi yang satu ini, dihuni oleh warga manusia dengan ragam bahasa, warna kulit, budaya, dan agama. Itu merupakan desain Tuhan sendiri. Jadi, siapa yang menentang pluralitas agama dan sosial-antropologis ini sama halnya dengan menentang kehendak Tuhan.

"Cintailah penduduk bumi, maka (Tuhan) yang di langit akan mencintaimu," begitu nasihat Nabi Muhammad. Ibarat sumur, kalau selalu ditimba, airnya akan selalu jernih dan orang di sekitarnya akan berterima kasih. Tetapi, kalau tidak pernah ditimba dan dialirkan, airnya akan keruh, menjadi sarang penyakit. Demikian Nabi Muhammad memberi kiasan bagi sebuah pribadi yang sehat, khususnya bagi para pemimpin.

Karenanya, sekalipun beliau telah wafat, ajaran dan getaran cinta kasihnya selalu dirasakan oleh mereka yang memasang mata dan telinga hatinya untuk menampung limpahan berkahnya. Sayang sekali, wajah teduh penuh kasih Nabi Muhammad telah dirusak citranya oleh mereka yang mengaku memperjuangkan ajarannya, namun penuh keberingasan, kebencian, dan permusuhan atas nama Islam.
Cia Yo AllAhu AkbAr :-)

2 komentar:

Ahlan Wa Sahlan mengatakan...

ass. semuanya thanks ya dah baca jangan lupa ya,..tinggalin comment

yadin mengatakan...

ass.
salam kenal tuk chika dari adi..
bagus tuh postingan kamu, andai para pemimpin bangsa ini mengikuti apa yang dah di lakukan oleh rosulullah pasti negeri ini akan lebih baik.
negara yang mayoritas islam terbanyak tapi tidak mencerminkan sikap islami, astaghfirullahaladzim.
apa yang harus kita lakukan???
mungkin untuk saat ini hanya do'a dan do'a.
wallahualam bishowab.